1. PENDAHULUAN
Setiap daerah masing-masing yang berada dibelahan bumi “So’oag” memiliki nama “si a’aero”, Nama, wilayah, daerah “mog so’o si, “as (at)” “si tam” nama tersebut digunakan sebagai bagian dari nama wilayah, nama kampung, juga bagi manusia “Nimi” sebagai identitas diri. benda dan tumbuhan yang ada bumi memiliki nama masing sebagai nama dan jenisnya.
Manusia di bumi “So’oag nimi”memiliki nama dan jenisnya dalam pembedaan kelamin. Tuhan Maha pencipta langit dan bumi dengan memberi nama jenis dan nama sesuai dengan cipataannya “Allah Ngeinge Sumbaogne Tam Sunum Uro”.
Dan selanjutnya dengan kebudayaan menurut “Meknang” suku dan etnis memberi nama “Mog”daerah dimana tempat “Mem-ag” sejarah.
Setiap wilayah yang di jadikan sebagai pusat pelayanan, selalu diberi nama yang populer untuk dikenal dekat, untuk dikenang, di-ingat “Wanag poa un-ne” agar ditujuh sesuai dengan lokasi yang jelas, tetapi di samping itu pemberian nama selalu dengan arti dan kiasan yang penuh dengan ikatan ciri khas serta kebudayaan.
Selain itu wilayah Yale (Yali) Mek (Suku Yali Mek) Kosarek sesuai dengan turunannya memiliki nama sendiri-sendiri, nama dimaksud adalah merupakan gunung, “Yim”, kali, “Mag” bukit, “Kon” lembah, “Puluu” sejengkal tanah dalam bentuk se-kecil apapun memiliki nama dan pemiliknya juga memiliki marga “sisa” sebagai tuan. “nubunge” Misalnya lokasi diberi nama dengan tuan tanah sesuai dengan turunan “mog so’o ngeinang ” “tam ngeingang, ukum nimi”
Dengan kebiasaan yang ada maka, Kosarek “Kosa’aek” dan “Phaekal” sebagai tempat berhala “Phanag” menjadi sebuah desa yaitu Kosarek. Secara adat daerah ini diberi Nama untuk di jadikan Pusat berhala “tam peilpanag” atau pusat penyembahan. Setelah berkembang, selanjutnya lokasi tempat sebagai pusat berhala itu dipersembahkan menjadi pusat pelayanan pekabaran Injil GKI Tanah Papua, POS. PI. GKI. Kosarek.
2. NAMA KOSAREK
Nama Kosarek berasal dari nama asli Kosa’aek, Kosa’aek diambil dari arti kata “Kos” dan kata A’aek, kata “Kos”, berarti “Jurang” dan kata “A’aek” berarti teriakan jadi Kosa’aek artinya “teriakan di pinggir jurang”, (teriakan karena ketakutan) (kaget) “yubu tam phende” (Kedua suku kata) ini dihubungkan sehingga menajadi satu suku kata Yaitu Kosa’aek.
Perlu di ketahui bahwa dalam bahasa mek dijuluki sebagai Yale mek dialek Kosarek (Mek-Mem) , oleh karena itu orang menyebut Yale Kosarek tetapi sebenarya wilayah ini merupakan sebuah rumpun yang memiliku suku tersendiri yaitu Mek dan didalamnya dianggap sebagai sub suku Mek-mem, memang berat bila menggunakan bahasa Mek, sebab itu tidak ada huruf “ r ” sebagai suku Kata maupun sebagai pelengkap kata/kalimat dalam sebutan Kosarek. Karena itu dalam bahasa mek dengan dialeknya menyebut Kosa’aek-Phaekal. Sebutan Kosarek dengan dialek bahasa Mek aslinya adalah Kosa’aek, sangat berbedah dengan nama yang telah diberikan oleh moyang maupun dongeng bagi sebuah nama, setelah itu secara budaya nama Kosa’aek tetap di Pakai, nama ini terus dikembangkan pada saat Injil Masuk wilayah ini Kosa’aek, pada akhirnya dalam sebutannya memulai dengan nama Kosarek sesuai denngan dialek bahasa Yali, nama beruba karena setiap orang menyebut Kosa’aek merasa berat dan sulit. Sedangkan Nama Kosa’aek hanya bisa digunakan dari asal suku Mek (mek-mem), oleh karena itu berbahasa Mek terbiasa karena kesamaan dialek, juga kebiasaan kesamaan karena sudah biasa diuangkapkan sesuai budaya bahasa yang ada sebagai suatu rumpun Mek. Para penyiar injil ketika mereka tiba di Kosarek secara tidak langsung
3. NAMA KOSAREK MENURUT CERITERA DONGENG
Saya waktu kecil di Kosarek, kampung saya di Whae, kakak perempuan, Pembantu Rumah Tangga (PRT) di rumah dulu ceritera ketika malam tiba, sebelum tidur diawali dengan dongeng, memang mana-mana di wilayah mek untuk pengantar tidur adalah “Kom” bahwa sebuah dongeng dari moyang “Kom”, isi asli ceritera dongeng :
“Di daerah kampung Whaldag, ada sebuah dusun namanya “semang alunak” di dusun itu ada lima wanita bersaudara hidup disini, satu kali hari musim kemarau, di gunung-gunung cuaca caerah sangat bagus dan terlihat kebiruan, mereka mulai merencanakan bersama untuk pergi ke daerah jauh di perkebunan, “par – asak” untuk ambil persiapan (bekal hidup) “Tognaba”, menjaga hari hujan,dan juga hari cuaca baik jadi lebih baik cari yang jauh, ketika itu adik mereka yang bungsu memilih untuk tidak ikut bersama dalam perjalanan itu, mengambil keputusan untuk tinggal di semang alunak (di kampung), ia hanya turun ke kebun dekat-dekat rumah dan ambil sayur sedikit secukupnya, cabut keladi beberapa untuk makan siang, lalu cepat-cepat naik tapi rasa cape dan keringat jadi naik pelan sampai di bukit Semang “semang jimag” dan lepas noken cepat-cepat lalu duduk istirahat, tidak lama kemudian ada ular yang masuk kedalam “Pat Lomag”, kemudian keluar lagi jilat keringat baru masuk kembali kedalam lubang Pat lomag setelah itu ia kaget dan mundur kebelakang, walaupun rasa cinta terhadap ular itu semakin besar lalu ia cepat-cepat ke rumah taru noken, dan masak cepat makan setelah itu ia kembali ke bukit lalu ular itu keluar, dengan berani mendekat dan minum susu akhirnya mulai hari itu ia menganggapnya sebagai anaknya dan menyusui ular bernama “ma’am”, setelah menyesuinya ia pulang ke rumah. Tetapi tetapi sifat dan cara hidupnya sedikit berubah, sehingga ketika keempat kakak perempuan itu datang mereka heran dan dalam hati bertanya ada apa sehingga berubah sifat ?, tanya dalam hati saja, tetapi mereka seolah tidak tahu dengan keadaan itu lalu sibuk dengan kegiatan rumah tangga. Kemudian dalam kehidupannya semakin berubah saja setiap pagi ia harus keluar dan sudah tidak mau tau dengan ke empat kakak itu. Pengantar ketika munculnya nama kosa’aek na’aeng-phaekal na’aeng.
Ketika perubahan Nama Kosa’aek disebutkan menurut dongeng : Karena setiap hari ia bagun pagi harus keluar dan lama baru kembali dan selalu begitu terus sehingga satu kali kakak perempuannya menyembunyi di sudut bukit subu-subu tetapi dalam hati ia sambil bertanya ada apa sebenarnya e......?. lalu mengintip si-adik begini ia bagun dan keluar lari sambil balik melihat kebelakang, takut ketahuan. ketika ia tiba Ular bernama” Ma’am Keluar adiknya memeluknya dan menyusui se-ekor ular ma’am tersebut. kakaknya keringat dingin mendadak, walau hari belum panas dan masih pagi tapi kakak sangat ketakutan sekali. Setelah itu ia memberikan laporan kepada ketiga rekan wanita itu lalu ke tiga perempuan itu bersediah untuk mempanggangnya. Tetap kakak yang tua masih sangat katkutan walaupun udara masih segar dan dingin. Setelah itu adiknya menyusui ular selesai langsung pulang ke rumah, lalu mereka menyuruhnya untuk ke kebun yang agak jauh untuk mengambil persiapan makanan. Setelah itu menunggu sampai adiknya keluar lalu mereka membunuh ma’am itu dan masak menjadi santapan siang. Kemudian setelah Siang ia pulang dan mau menyusui, ternyata ular sudah tidak ada lagi di tempat persembunyian itu, ia marah sekali dan membunuh se-ekor babi dan masak setelah itu ia jalan ke menuju ke Kampung Whaldag dengan tujuan Ke Kos’aek seterusnya ke daerah “kebongas” di ada kali namanya kebongas daerah itu bertemu dengan si tuyul bernama “Kabumne”. Kabumne langsung menyapa perempuan itu, dengan kata-Kata demikian “ niri’ing-nare’eng, Kosa’aek na’aeng-na’aeng pahaekal na’aeng-na’aeng, pham sob pat sob “ akhirnya perempuan itu terlena dengan kata tawaran maut itu dan mengikutinya sampai di Phaekal yang kini kosarek itu, lalu ia menjadi makanan tuan tanah, jadi ia di bunuh disana dan masak menjadikan makanan bagi tuyul dan tuannya di Kosa’aek, ceritera lanjutan masih ada (....) Dengan ceritera ini orang menganggap bahwa nama dimana ada lapangan terbang itu phaekal sedang daerah dimana rawa ujung lapangan itu disebut kosa’aek, entah bagaimana nama kosa’aek akhirnya menjadi sebuah desa yaitu Kosarek.
Masih ada ceritera rakyat tentang kosa’aek penyebutan dan penyempurnaan nama tentang Kosarek, bahwa dalam dongeng (Tindilaple)telah ada ceritera bahwa :
“ seorang datang ke kosarek dari mirin dan memintah perempuan yang bernak satu itu untuk mengikutinya ke mirin, ketika pagi ia membunuh babi dari perempuan whaldag, setelah masak ia kemaskan barang ia minta untuk ke Mirin, lalu perempuan ini ia tidak mau karena anak ini adalah anak kesayangannya yang harus dibawah namun ia berkata demikian “ yangkaluang u, mene kosa’aek me seneamna u yalulam sebeban u” dengan kata demikian sehingga ia ikut namun anak kesayangannya terus ikut sampai ke kali inn (sekarang Hine) ia sampai di tengah jembatan lalu jemabatan itu di kasih putus talinya sehingga anak itu hanyut, sedangkan perempuan itu ikut ke Mirin”. Ceritera lanjutan karena tindinaple hanya yang dianggap penting saja diambil yaitu hanya sebutan tentang kosa’aek saja sebab hanya data pendukung kepastian pemberian nama Kosarek.
4. KOSAREK NAMA ASLINYA PHAEKAL
Saat ini daerah dimana lokasi lapangan terbang melintang adalah Kosarek, tetapi sebetulnya daerah tersebut adalah nama aslinya “Phaekal”. Istilah “Phaeka”l adalah kata dalam bahasa Mek Kosarek, kata “Phaekal” diambil dari kata “Phae” artinya ular, kata “Kal” artinya Pohon sehingga disebut Ular Pohon “Phaekal”. “Phaekal’ menurut keturunan Marga Toma dan Piridoman adalah tempat berhala, pusat Persembahan tuan tanah sebagai penjaga tanah, tempat berhala bernama Saplatamagha dan Wiria ngenge. Saplatamagha dan Wiria ngenge adalah sejenis Ular yang sangat ganas, Ular ini Merupakan moyang, dia diberi kehormatan, dihargai saat kedua marga berpesta, pesta babi mapun pesta adat. Sebab itu untuk menyebutnya-pun selalu diterjemahkan dengan bentuk bahasa kiasan, selalu hati-hati sekali. selain itu menyebut daerah tersebut dengan bahasa kiasan “Kekwhaekto” supaya tidak kelihatan dalam sebutan. Kiasan yang diambil untuk menyebut daerah tersebut adalah namanya Ular Pohon, “Phaekal” nama ular bernama Saplatamagha dan wiria ngenge tinggal di kolam alam tempat berhala atau tempat penyembahan, kolam tersebut bernama Wilibsi sebagai Pusat kepercayaan dan penyembahan ke – dua Marga, “Toma dan Piridoman Moyang “Ukumne”, Tuan tanah itu tinggal di Wilibsi, dan sampai hari ini kolam alam masih tetap bernama Wilibsi, kolam ini sampai hari ini masih ada di pinggir lapangan terbang Kosarek. Jadi daerah lokasi lapangan terbang Kosarek itu bernama Phaekal. Daerah Kosarek dari ujung lapangan terbang bagian selatan, dimana daerah tersebut berada di bukit kecil lurus dengan pohon Motel. Mata air kecil yang ada di tengah pusat Penginjilan Kosarek bernama “Loe”, mata air kecil ini diberi nama dengan dua versi dua nama tersebut adalah “kuriong”, “Loe”, mata air kecil ini turun dari “Wiek” tempat lokasi yang dianggap sebagai milik marga Tibul. Mata air ini belum bisa dibenarkan karena Marga Toma, Piridoman dan Omoldoman_nang menganggap daerah ini merupakan daerah milik mereka tetapi Marga Tibul Mengklaimnya bahwa bukit Wiek itu milik marga Tibul. Dengan alasan, bukit tersebut sambung dari bukit Waleang menuju Palue dan Wiek, dibawah kaki gunung Wiek terdapat mata air Kecil sersebut, orang lebih banyak mengakui sebagai nama mata air tersebut adalah “LOE”. Dengan demikian daearah dimana lapangan terbang melintang itu bernama Phaekal dan saat ini di sebut Kosarek. Jadi kini lokasi tersebut dipersembahkan sebagai daerah penginjilan, dan jadikan pusat GKI di Tanah Papua, Rayon GKI Kosarek.
5. KOSAREK TIDAK ADA HURUF “ R ”
Penyebutan Nama Kosarek dalam bahasa Yali ringan karena menggunakan huruf (r) di tengah sebagai pengganti Tanda ( ‘ ), dalam dialek bahasa Mek tidak mengenal huruf (r) sebab itu dalam dialek bahasa Yali sangat sederhana sekali menyebut nama “Kosarek”, penyebutan nama Kosarek sangat ringan, karena dialek bahasa Yali dengan kebiasaan percakapan tidak berat, ketika mereka
menyebut nama pasti saja mereka menyebut Kosarek bukan kosa’aek, memang sebetulnya dalam Bahasa Mek tidak ada huruf (r) tetapi yang ada tanda petik (’) dengan bentuk suku Kata Kos’aek. Setelah injil melalui sending masuk di wilayah Mek memang terjadi perubahan yang besar, perubahan nama wilayah, perubahan budaya juga perubahan hidup dari kehidupan lama ke hidup bersama Yesus, oleh karena itu saya katakan bahwa bahasa Yali dalam sebutan Kosarek sangat ringan karena didukung dengan Huruf (r) dari pada sebut Kosa’aek menurut dialek bahasa mek berat sekali. Perubahan besar terjadi karena injil, injil kekuatan Allah, dikenal luas karena kebesaran Injil Allah.
Perubahan banyak terjadi di wilayah perbatasan Yali dan Mek. Contoh lain dalam sebutan nama kampung misalnya dalam Bahasa Mek sebut Whaldag dalam bahasa Yali sebut wesaltek, se’ekhei/Serekhei dalam bahasa Yali Serekasi, seperti inilah yang membuat wilayah Mek yang perbatasan dengan suku Yali sangat berpengaruh terhadap dialek Bahasa Yali dan keasliannya semakin hilang di Wilayah suku dan Bahasa Mek.